Kampung Petroganik Membangun Harapan Petani Desa Kepuhkajang

Kampung petroganik digunakan untuk membangun harapan petani  yang ada didesa kepuhkajang. Pupuk petroganik sudah lama dipakai dan didistribusikan oleh pihak petrokimia gresik kepada petani yang ada didsesa kepuhkajang. Hal ini bisa dilihat ketika terjadinya panen raya yang ada didesa tersebut. Panen raya dihadiri Anggota DPR RI Mindo Sianipar, Dirjen Tanaman Pangan Hasil Sembiring, Direktur Utama Petrokimia Gresik Hidayat Nyakman dan Bupati Jombang Suharli Wihandoko

Hamparan padi menguning di lahan seluas 54 hektar di Desa Kepuhkajang, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, tampak seperti permadani raksasa. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya padi dan padi dengan bulirnya yang bernas merunduk. Batang padi masih terlihat kokoh, dengan daun tegak berwarna hijau. Hampir tidak ada sebatang pun yang rebah, meski sesekali angin bertiup cukup kencang. M. Sholeh (47), Kepala Desa Kepuhkajang terlihat sumringah di antara orang-orang yang bekerja bakti mendirikan tenda dan panggung untuk acara panen raya yang dilaksanakan pada 4 November 2015. “Baru kali ini tanaman padi di desa kami tumbuh subur dan tidak mengalami gangguan yang berarti. Melihat pertumbuhannya yang seperti ini, saya yakin hasilnya lebih dari 10 ton per hektar,” katanya sambil memperhatikan malai padi bernas yang baru saja dipetiknya.

Kebahagiaan M. Sholeh bukan tanpa alasan, sebab selama ini hasil panen padi di desanya tidak lebih dari 7,5 ton per hektar. Bahkan ada yang pernah hanya mendapatkan tidak lebih dari 3 ton karena habis diserang hama. Hal itu diungkapkan oleh Herry Soetanto, Direktur CV Daun Thekker, yang menjadi pemrakarsa sekaligus koordinator Kampung Petroganik di Desa Kepuhkajang. “Jujur saya akui, saya terinspirasi dengan keberhasilan teman-teman pengusaha yang membuat Kampung Petroganik di Desa Dayu, Kecamatan Purwoasri, Kediri,” ujarnya. Herry melihat bahwa kegandrungan petani di Desa Dayu untuk menggunakan Petroganik kini menjadi virus yang terus menyebar di Kabupaten Kediri. Dia mengakui dengan program tersebut berhasil meningkatkan produksi panen di Kediri dan mampu membangkitkan kesadaran petani akan peran Petroganik.

“Waktu itu saya iri, kok di Kediri bisa berhasil, maka saya dan teman-teman di Jombang pun bergerak. Jika Kediri bisa, maka Jombang ya harus bisa lah,” papar Herry. Maka pada awal bulan Juni 2015 delapan pengusaha yang terdiri CV Daun Thekker, CV Cahaya Baru, UD Phalosari Unggul, UD Bima Sakti, PT Mitra Prasetya Gemilang (Mitra Produksi Petroganik) dan UD Mujiarto, CV Kembar jaya, Koperasi Mitra Tani (distributor pupuk Petrokimia Gresik), merancang dan mewujudkannya. Menurut Agung Wahyudi dari CV kembar Jaya, program ini tidak hanya untuk saat ini saja, tapi juga untuk jangka panjang. “Sebab dengan Petroganik, kita bisa mewarisi tanah pertanian yang subur kepada generasi berikutnya,” jelasnya.
Peningkatan produksi panen hingga 3 ton per hektar tentu saja sangat menggembirakan banyak petani, utamanya yang bergabung dalam Kampung Petrganik. Panen rayanya pun dihadiri Anggota DPR RI Mindo Sianipar, Dirjen Tanaman Pangan Hasil Sembiring, Direktur Utama Petrokimia Gresik Hidayat Nyakman dan Bupati Jombang Suharli Wihandoko. Lonjakan fantastis tersebut tentu saja tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh 26 petani yang terlibat dalam program itu. Seperti yang diungkapkan oleh Sodikin (44), Ketua Poktan “Bekel Kepuhsari”, yang menjadi salah satu peserta program Kampung Petroganik. “Dengan produksi panen hingga mencapai lebih dari 10 ton per hektar, membuat penghasilan kami juga meningkat. Kami juga mendapatkan banyak ilmu pertanian dengan adanya program ini, baik dari petugas lapangan Petrokimia dan Petrosida, maupun PPL,” ungkapnya.

Menurut Sodik, dia dan teman-temannya sesama petani mendapatkan pelatihan mulai dari mengolah lahan, penanaman, pemupukan, hingga penanggulangan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman). Lahan mereka rutin dikunjungi petugas lapangan setiap hari Rabu dan Sabtu. Dia menambahkan, keberhasilan tersebut juga ditunjang oleh semakin baiknya irigasi di desa mereka. Rumiah (73), petani lain yang ikut bergabung dalam Kampung Petroganik juga merasakan banyak manfaat dengan ikut program ini. Dulu padi di sawahnya hanya mampu menghasilkan panen sebanyak 5 – 7 ton per hektar. Bahkan pernah hanya mendapatkan 2,8 ton saja, setelah diserang hama blast. Tentu saja dia mengalami kerugian cukup banyak. “Tapi setelah ikut Kampung Petroganik, panen saya menjadi 10,8 ton per hektar,” katanya.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer