Sejarah Pupuk Petroganik

A. Jejak Awal Petroganik

Permasalahan menurunnya tingkat kesuburan lahan yang ditandai oleh semakin rendahnya kandungan bahan organik dalam tanah mendorong PT Petrokimia Gresik untuk segera memberikan respon jalan keluar. Sebagai produsen pupuk terlengkap di Indonesia (Urea, SP-36, ZA, NPK) PT Petrokimia Gresik mencoba untuk mengembangkan varian pupuk baru yaitu pupuk organik. Pengembangan ini sekaligus mendukung program pemerintah Indonesia Go Organik 2010 yang dicanangkan sejak tahun 2001.

Pengembangan pupuk organik oleh PT Petrokimia Gresik dilakukan karena Indonesia memiliki potensi sebagai penghasil pupuk organik berkualitas. Potensi ini antara lain:

1. Indonesia memiliki potensi bahan baku organik yang sangat besar baik dari limbah pertanian, limbah industri, ataupun limbah peternakan
2. Pupuk organik merupakan produk berbasis bahan baku yang terbarukan (renewable)
3. Pupuk organik memiliki prospek bisnis yang baik di masa datang, karena tren dunia menunjukkan perkembangan ke arah keseimbangan pertanian anorganik dan organik
4. Pengelolaan limbah menjadi pupuk organik secara langsung turut membantu pelestarian lingkungan

Dalam perjalanan pengembangan pupuk organik, selain peluang, hambatan pun dapat muncul. Hambatan yang perlu diantisipasi guna berjalan lancarnya pengembangan pupuk ini diantaranya:

1. Pemahaman petani akan pentingnya penggunaan pupuk organik masih relatif rendah dan belum merata. Anggapan bahwa pupuk anorganik sebagai satu-satunya penentu utama hasil produksi pertanian masih perlu diubah
2. Kebanyakan pabrik pupuk organik yang telah muncul masih merupakan industri kecil-menengah yang akses permodalan dan teknologinya cenderung rendah
3. Banyak beredarnya pupuk organik yang rendah kualitasnya sehingga kepercayaan petani akan pupuk organik menurun
4. Tingginya dosis aplikasi pupuk organik memerlukan sinergi dengan aplikasi pupuk anorganik

Guna memanfaatkan potensi pupuk organik dan menerobos hambatan pengembangannya, PT Petrokimia Gresik mengembangkan inovasi teknologi proses pupuk organik dengan merek Petroganik. Produk ini diharapkan dapat membantu mengembalikan kesuburan tanah yang saat ini telah jauh berkurang sehingga dapat tercipta kondisi ketahanan pangan nasional yang stabil.

B. Awal Proses Produksi

Pilot Plant Petroganik direncanakan memiliki kapasitas sebesar 10.000 ton per tahun. Pembangunan Pilot Plant Petroganik dilakukan mulai bulan Agustus 2005 hingga awal Desember 2005. Desain pabrik dikerjakan oleh Biro Rancang Bangun, sedangkan pabrikasi oleh PT Aneka Jasa Grhadika yang merupakan anak perusahaan PT Petrokimia Gresik. Peresmian Pilot Plant Petroganik dilangsungkan pada tanggal 19 Desember 2005 oleh Bapak Sugiharto selaku Menteri Negara BUMN. Lokasi pilot plant berada di lingkungan Kebun Percobaan PT Petrokimia Gresik yang kini berganti nama menjadi Biro Pusat Riset.

Ketika itu proses pembuatan Petroganik menggunakan teknologi yang relatif sederhana. Beberapa kegiatan masih memerlukan tenaga manusia secara manual. Proses produksi secara umum meliputi Crushing (penghalusan bahan), Granulation (pembuatan butiran), Drying (pengeringan), Screening (pengayakan), dan Packaging (pengemasan).

Adanya formula khusus yang digunakan sebagai bahan pendukung dalam proses pembuatan Petroganik menjadi pembeda Petroganik dengan produk pupuk organik lainnya. Terdapat formula khusus yang dipakai dalam Petroganik, yaitu Mixtro. Formula ini dibuat secara intern di PT Petrokimia Gresik dan diperuntukkan khusus untuk proses produksi Petroganik. Formula ini mendukung dalam penentuan proporsi bahan baku (consumtion rate) Petroganik. Lebih dari 80% bahan baku yang digunakan dalam proses produksi Petroganik adalah bahan organik alami, sisanya berupa bahan tambahan, yaitu kapur dan Mixtro.

C. Uji Coba Penggunaan Pupuk Petroganik

Untuk memasarkan dan memperkenalkan pupuk organik Petroganik kepada petani tanaman pangan khususnya padi serta beberapa jenis tanaman hortikultura, beberapa kegiatan ujicoba yang dilaksanakan antara lain :

1. Kerjasama dengan instansi
Kerjasama ujicoba penggunaan pupuk Petroganik dilaksanakan dengan :

a. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) di Jawa dan Lampung

Kerjasama dilakukan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jatim. Komoditas yang digunakan untuk uji efektivitas ini adalah padi. Adapun lokasi uji coba terletak di daerah sentra produksi padi kabupaten Madiun. Hasil Ujicoba di Jawa Timur di tetapkan sebagai rekomendasi penggunaan Petroganik di Jawa Timur.

b. Dinas Pertanian
Kerjasama ujicoba penggunaan pupuk Petroganik dilakukan diberbagai kabupaten di propinsi yang ada di pulau Jawa. Kerjasama ini selain untuntuk melihat efektivitas pemupukan Petroganik pada lahan sawah, sekaligus juga sebagai referensi untuk penentuan dosis rekomendasi penggunaan pupuk Petroganik di berbagai daerah.

2. Kerjasama dengan Petani
Ujicoba penggunaan pupuk Petroganik bekerjasama dengan Koperasi Tani atau Kelompok Tani dilakukan melalui Kerjasama Kemitraan Usaha Tani Padi Sawah di lahan petani pada musim tanam (MT) 2006 dan 2006/2007, 2007/2008. Kerjasama sebagian besar dilakukan di propinsi Jawa Timur dan sebagian propinsi Jawa Barat serta Jawa Tengah. Pembahasan lebih terperinci mengenai pola kerjasama ini akan disajikan dalam bab mengenai Percontohan Usaha Tani.

3. Sosialisasi Pemupukan Berimbang
Sosialisasi pemupukan berimbang dilaksanakan dalam 2 (dua) tingkat, yaitu tingkat kabupaten dan tingkat kelompok tani. Tingkat kabupaten dilaksanakan di berbagai kebupaten di pulau Jawa. Peserta yang mengikuti terdiri atas Petugas Dinas Pertanian Kabupaten, PPL/KCD, dan Ketua Kelompok Tani.

Sosialisasi tingkat Kelompok Tani dengan peserta yang terdiri atas pengurus dan anggota Kelompok Tani, Kepala Desa serta instansi teknis (PPL/Mantri Tani). Hasil kegiatan sosialisasi yang dilakukan antara lain :

 Respon, animo, dan penerimaan petani terhadap Petroganik cukup baik
 Kios sudah mulai berani melakukan stock/penyediaan pupuk Petroganik untuk kebutuhan jangka waktu tertentu
 Kebijakan tiap-tiap daerah sudah memasukkan paket pemupukan menggunakan Petroganik ke dalam program Peningkatan Produksi Pertanian di wilayahnya.

D. Demontrasi Plot

Demontrasi Plot Pemupukan Berimbang dilakukan bekerjasama dengan Instansi seperti Departemen Pertanian, Distributor dan atau investor Petroganik, petani / Kelompok Tani, serta dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Hingga tahun 2008, telah dilakukan lebih kurang 404 demonstrasi plot yang tersebar di pulau Jawa dengan sasaran berupa komoditas Padi, palawija, hortikultura, perkebunan, serta pada tambak udang dan bandeng.
Rata-rata kenaikan hasil yang telah dicapai yaitu:

– Padi : 0,3 – 4,6 ton GKP/ha
– Jagung : 1,7 – 2,2 ton pipil kering/ha
– Kentang : 0,7 – 6,5 ton/ha
– Bawang merah : 0,5 – 4,7 ton/ha
– Udang Vaname : 0,1 – 0,2 ton/ha

E. Percontohan Usaha Tani Pola Kemitraan Sistem Terpadu

Pada awal perkembangan pupuk Petroganik, rata-rata produktifitas hasil pertanian sangat rendah. Hal ini semakin ditambah dengan mutu hasil yang kurang baik, penanganan paska panen dan pemasaran hasil kurang baik, serta lembaga ekonomi pedesaan dalam wadah Gapoktan/kelompok tani kurang berkembang . Untuk meningkatkan produksi, produktivitas, dan mutu hasil pertanian, PT Petrokimia Gresik merintis Program Kerjasama Kemitraan Usahatani Padi Terpadu dengan Petani/Kelompok Tani melalui Distributor dengan Petani/Kelompok Tani.

Kegiatan Percontohan Usaha Tani ini bertujuan untuk:

• Meningkatkan pengetahuan petani dalam penerapan pemupukan berimbang menggunakan PHONSKA, Urea, dan Petroganik.
• Membantu petani dalam permodalan untuk pengadaan pupuk berimbang.
• Membantu petani dalam memasarkan hasil panen.
• Mengembangkan lembaga ekonomi pedesaan dalam wadah kelompok tani.
• Meningkatkan produksi padi untuk mendukung program pemerintah dalam upaya meningkatkan produksi pangan.

Pihak-pihak yang ikut terlibat dalam kegiatan percontohan usaha tani memegang peran yang penting, antara lain :

1. PT Petrokimia Gresik

 Memberikan kredit pupuk secara berjangka kepada Distributor untuk disalurkan kepada kelompok tani peserta kemitraan.
 Memberikan sosialisasi dan kawalan teknologi pemupukan berimbang menggunakan Paket PHONSKA dan pupuk organik Petroganik

2. Distributor

 Memberikan pinjaman berupa natura, yaitu pupuk Urea, PHONSKA, dan Petroganik kepada petani.
 Memberikan jaminan Bank Garansi kepada PT Petrokimia Gresik sesuai plafon kebutuhan kelompok tani peserta kemitraan.
 Sanggup membeli gabah/memfasilitasi pemasaran hasil panen petani dengan harga kesepakatan yang berlaku saat itu.

3. Petani / kelomok tani

 Melakukan budidaya tanaman padi sesuai petunjuk teknis.
 Mengembalikan pinjaman pupuk setelah panen (yarnen).
 Menjual gabah ke kios/distributor, sesuai dengan harga pasar.

Hasil yang diperoleh dari ujicoba penggunaan paket Petroganik adalah :
 Hasil panen meningkat rata-rata 0,3 – 4,6 ton GKP per ha
 Mutu gabah lebih baik
 Pertumbuhan dan produksi tanaman padi lebih baik
 Pendapatan petani meningkat

Manfaat lain dari ujicoba penggunaan paket pupuk Petroganik dalam program kemitraan adalah:
 Memperbaiki dan melestarikan kesuburan tanah
 Efisiensi penggunaan pupuk anorganik. Berdasarkan hasil uji coba dan demplot penggunan Petroganik terdapat peluang penghematan pengunaan pupuk an-organik (50 kg Urea/ha)
 Meningkatkan produktivitas hasil pertanian

F. Bahan Baku Petroganik

Potensi limbah organik sangat besar di alam. Semua jenis sisa-sisa bahan yang berasal dari mahkluk hidup, baik itu manusia, hewan maupun tumbuhan dapat dikatakan sebagai bahan organik. Berbagai bahan yang tersedia antara lain adalah sampah rumah tangga, kotoran ternak (sapi dan ayam), serta limbah pertanian lain (sekam, blotong, cocopeat, jerami, dll). Walaupun semua bahan organik dapat dimanfaatkan sebagai input dalam pertanian, tetapi kualitas serta kemampuan dari setiap jenis bahan organik untuk memperbaiki tanah serta meningkatkan kualitas tanah berbeda-beda.

Bahan baku yang digunakan untuk Petroganik saat ini difokuskan pada kotoran ternak baik sapi, maupun ayam. Hal ini didasarkan pada hasil beberapa penelitian-penelitian ilmiah, dimana kotoran ternak, terutama unggas, memiliki kandungan hara Nitrogen, Phospor dan Kalium yang lebih tinggi dari berbagai jenis bahan organik lain. Kondisi ini diaharapkan dapat mengefektifkan fungsi bahan organik dalam memeperbaiki struktur tanah serta penyedia unsur hara bagi tanaman. Sumber lain sebagai bahan baku, seperti blotong (limbah pabrik gula), dan cocopeat (bubuk sabut kelapa), serta tandan kosong kelapa sawit juga dapat digunakan dalam proses ini.

G. Perijinan dan Legalitas

Untuk mengatur produksi dan penggunaan pupuk organik guna memperbaiki kondisi lahan-lahan pertanian saat ini, Pemerintah melalui Departemen Pertanian mengeluarkan peraturan-peraturan tentang pupuk organik dan pembenah tanah. Peraturan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 02/Pert/HK.060/2/2006 Tanggal 10 Pebruari 2006. (Saat ini legalitas produksi pupuk organik diatur dalam Permentan No. 70 tahun 2011)
Di dalam SK Mentan disebutkan bahwa pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri dari bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk mensuplai bahan organik, memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah.
Petroganik diproduksi dengan mutu yang memenuhi seluruh standar yang ditetapkan dalam SK Menteri Pertanian, dan telah terdaftar melalui Departemen Pertanian, dengan nomor registrasi Pendaftaran G095/ORGANIK/BSP/IX/2005 tanggal 7 September 2005. Dikemas dalam plastik ukuran 10 kg, 20 kg dan karung plastik ukuran 40 kg.

Uji mutu dan uji efektivitas Petroganik dilakukan oleh lembaga pengujian yang telah terakreditasi atau yang telah ditunjuk langsung oleh Pemerintah. PT Petrokimia Gresik menyerahkan pengujian mutu Petroganik pada PT Sucofindo Surabaya, yang memiliki kemampuan analisis kandungan unsur hara makro, mikro dan analisis kandungan logam berat. Adapun uji efektivitas dilakukan bekerja sama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur, yang berkedudukan di Karang Ploso, Malang, Jawa Timur.

1. Uji Mutu
Hasil uji mutu yang dilakukan oleh PT Sucofindo Surabaya menyatakan bahwa Petroganik memenuhi syarat yang ditetapkan Peraturan Menteri Pertanian tentang Pupuk Organik dan Pembenah Tanah. Hal ini tertuang dalam sertifikat yang dikeluarkan oleh PT Sucofindo Surabaya dengan nomor 3509045 tanggal 9 Agustus 2005, serifikat nomor 3509196 tanggal 15 Agustus 2005 dan sertifikat nomor 3509197 tanggal 15 Agustus 2005.

2. Uji Effektivitas.
Uji efektivitas Petroganik dilakukan melalui kerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jatim. Waktu pelaksanaan dimulai pada bulan Desember 2005 sampai Mei 2006. Komoditas yang digunakan untuk uji efektivitas ini adalah padi. Adapun lokasi uji coba terletak di daerah sentra produksi padi kabupaten Madiun.

Penggunaan pupuk organik ini diharapkan dapat membantu meningkatkan produktivitas tanah sehingga pada akhirnya kembali meningkatkan produksi tanaman. Ini juga menjadi sarana untuk mensinergikan kegiatan pertanian secara keseluruhan, baik industi hulunya, kegiatan on farm, serta industri hilir dalam rangka merealisasikan pertanian yang berkelanjutan dengan input-input yang berasal dari kegiatan pertanian itu sendiri.

H. Proses Produksi Petroganik Terkini

Berbeda dengan ketika awal pengembangan pupuk Petroganik yang masih mempergunakan teknologi sederhana, sekarang hampir semua mitra produksi Petroganik sudah mempergunakan teknologi produksi yang lebih maju. Berbagai peralatan dan mesin produksi sudah dimodifikasi untuk meningkatkan kualitas produksi sekaligus mendapatkan efisiensi yang lebih tinggi. Di sejumlah mitra produksi bahkan sudah mempergunakan teknologi canggih baik untuk menghancurkan dan menyortir bahan baku, maupun dalam proses pemanasan hingga pengemasan.

Namun demikian secara umum proses produksi pupuk Petroganik tidak berbeda jauh dengan proses awal pengembangannya. Bahan baku terdiri dari kotoran sapi dan kotoran ayam atau kambing. Bahan baku yang masih kasar dihancurkan hingga menjadi halus seperti tepung. Bahan baku harus sesuai dengan ketentuan yang berlalu baik itu c – organik C/N dan persyaratan lain. Pemenuhan persyarataan merupakan hal yang sangat penting karena akan menentukan kualitas produk pupuk yang dihasilkan.

Tahap berikutnya, bahan baku yang sudah halus didekatkan ke pan granulator agar dapat dijangkau dengan mudah untuk proses granule. Proses ini harus dilakukan dengan cermat karena jika hasil granule tidak sempurna akan mempengaruhi kualitas pupuk yang dihasilkan. Jika terlalu kecil maka dalam proses pengayakan setelah dibakar akan terlalu banyak hasil granule yangdi bawah ukuran standar. Begitu juga sebaliknya, jika terlalu besar akan melebihi batasan ukuran yang seharusnya. Untuk ukuran yang tidak sesuai harus dilakukan proses ulang yang tentunya akan membuat biaya membengkak. Dalam proses produksi bisa saja dilakukan pencampuran bahan baku, antara lain kotoran sapi dan ayam, atau sapi dan kambing atau yang lainnya.

Setelah itu, dilakukan pencampuran dengan kapur, mixtro, suplement dan air. Penggunaan air berfungsi untuk mencampurkan bahan bahan tersebut. Ukuran jumlah air harus tepat untuk memperoleh hasil terbaik. Jika terlalu banyak air, ukuran pupuk akan menjadi besar, jika terlalu sedikit air proses produksi akan lama dan hal itu berarti tidak efisien. Hasil yang dapat dicapai dalam 7 jam dalam proses pencampuran adalah 25 batch. Untuk satu batch terdiri dari 100 kg sapi,100 kg ayam 45 kg kaptan, 2 liter mixtro dan 2 liter suplement. Akan lebih baik jika hasil granule kemudian diinapkan selama semalam lebih agar lebih kering sehingga dalam proses selanjutnya hasil granule bisa benar-benar kering.

Setelah hasil granule terlihat lebih kering karena kadar air menurun proses selanjutnya adalah pemanasan. Dalam proses ini harus diperhatikan volume bahan yang akan dipanaskan. Jangan sampai materi yang diproses terlalu banyak karena hasilnya akan basah, yang membuat gulma atau penyakit yang ada tidak mati. Namun jika terlalu sedikit maka hasilnya akan terlalu panas dan bisa terjadi kebakaran pada conveyor outletnya.

Kunci dari pembakaran dalam proses dryer adalah keadaan tungku batu bara. kondisi batu bara harus benar benar kering dan tidak terlalu besar, jika terlalu besar akan menyumbat screw. jika tersumbat aliran batu bara jadi tersendat yang mengakibatkan tungku tidak ada bara, sehingga tungku akan mati.jika tungku mati hasil tidak akan tercapai maximal atau hasil jadi akan basah dan proses harus diulang.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer